Sunday, May 27, 2018

Futur

Ketika hidayah menyapa ramah
Saat hijrah mendaki pelan
Kala istiqomah menetap tenang
Tetiba futur menyergap pilu

Quran menjelma android
Dzikir beralih ghibah
Masjid berganti pasar
Semangat bermalas-malasan

Perbanyak sahabat taat
Penasehat dalam kebaikan
Pengingat dikala lalai
Penyebab menggapai surga

Ever

Sometimes
Happiness
Make us 
Restless

Sometimes
Sadness
Make us
Conscious

Sometimes
Memories
Make us
Miss

Saturday, May 26, 2018

Nidar


Gelegar abdi sebatas subjek
Euologi syukur setakat objek
Pun torehan pena bergidik
Tak cakap menuliskan induk

Elok fajar sepiring santap
Gelora terik sesinar sigap
Anggun senja sesambut tatap
Canda redup sedamai lelap

Sedia bincang dalang girangnya
Patuh pinta picu antusiasnya
Cita hafidzah gagas mahkotanya
Gapai firdaus lajur tapaknya

Si-biru


Perihal semu pencetus asa
Mengenai temu perampung jeda
Tentang sedu berhadiahkan tawa
Berkenaan jemu mengindahkan kuasa

Pergi tak melulu soal rasa
Iya tak semakna dengan setuju
Perjuangan tak sekala definisi derita
Ingin tak selalu menggenggam perlu

Peluh boleh jadi berbuah getir
Geram mana tahu menerjemah amor
Keluh mungkin saja memintal syukur
Langit kata seringkali tertangguh petir

Predestinasi,
Seuntai sangka bertutur yakin
Pada tiap pilin berepisode misteri
Skenario-Nya selalu indah bukan?

Medulu

Binar itu menyapa perantara alinea
Merangkak dari serpihan nostalgia
Kilau pendarnya masih sama
Sorot misteri yang masih terasa

Ratusan tanda tanya menjumpai hari
Ribuan kenang mencabar nurani
Jutaan tawa membasahi hati
Milyaran harap menelusuk memori

Binar itu serupa bulan temaram
Cahayanya mengusik kelam
Namun sosoknya jauh menyelam
Cabar ini mengelana malam

Silaunya membenah harap
Janjinya mengiring lelap
Kuriositas membumbung kalap
Vibrasi cakap menjelma senyap

Ditemu

Bagai garam dalam bayam
Seperti tinta pada pena
Laksana oksigen dalam angin
Bak pembuluh pada darah

Dulu fajar bagai butiran duka
Kini senja laksana siluet teduh
Kelak, tiap malam kutitipkan doa-doa
Menembus lazuardi yang temaram

Kita bersama bagai rantai-rantai
Di tengah buah yang ranum-ranum
Bahkan di malam yang merintih-rintih
Namun kita tetap berkobar-kobar

Karena aku bisa merasakannya
Karena kau pandai mendekapnya
Karena kita lihai mengasahnya
Dia, ukhuwah islamiyah